Duduk menyepi diantara kepala-kepala dan dahi-dahi yang nampak diantara permadani rumput Di banyak pohon rindang yang kokoh berdiri disini Di bawah pohon tak bernama aku mencari yang selalu merenggut nyali * Mengapa sepi di keramaian Mengapa pula gusar padahal tak ada yang mengancam Lembut angin yang datang tak memberi sejuk di badan Walau bernaung di rimbun daun hijau tapi tak ada rasa damai * Detik-detik mengingat lalu dan menyambung dengan kini Ada garis merah yang samar Garis yang menghubungkan kesamaan, rasa, waktu, jeda, problema dan ketiadaan Teruntuk membisu di gelapnya hari walau kini sangat terang * Getir itu ada Kesal itu muak Marah itu binasa Dan aku terbiasa dengan itu semua * Menunggu...... menunggu....... Cuma kata itu yang pas untuk saat ini Saat aku masih bersabar dalam duka, luka lama yang belum sirna