Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi Sedih

Melepas Ingatan

Gambar
Jangan tanya lukaku Kau pasti sudah tahu Malam yang lalupun begitu Hanya angin ini yang membius senjaku * Mengapa waktu cepat berlalu Sedang diriku tetap mengenangmu Seribu kisah yang telah berlalu Hanya ingin melupakan wajahmu

Manusia Gagal

Gambar
Seharusnya aku memeluk keinginan itu dengan kuat tanpa tahu apa kata orang Seharusnya pula aku tak putus dalam harap untuk mencapai segala impian Adapula kasih yang harus kukejar Dan melukiskan segala intuisi yang kerap muncul di akal * Terpupus di tengah jalan mencari secerca cahaya cita dan kebahagiaan Jiwa yang lantang tapi gersang  Binar yang adapun hanya khayalan Semua berakhir tanpa tujuan * Aku di sini tak meratap lagi Aku tak ingin sedih dan lari Itu semua telah kulalui dengan nyali yang nyaris mati Tapi hati tetaplah hati Sekian keras menutup sepi selalu ada celah tersedu menanti yang tak pasti * Kini berdiri tanpa rasa Gagal dalam merajut kisah Waktu apa yang kutunggu, alur hidup penuh tipu Rentetan umur yang berlalu menyinggahi lubuk-lubuk arus lukaku

Di Akhir Maret (Efek Corona)

Gambar
Hujan di akhir Maret pekat dengan kesedihan Dinginnya seperti arus sepi orang-orang yang ditinggal terkasih Melonjak emosi pada kata, "aku sendiri" Kecemasan yang semakin menjadi Di pojok ruang menatap dalam getirnya peristiwa yang terjadi * Bagaimana membangun keyakinan jika esokpun tak tahu apa yang bakal terjadi

Aku Terbiasa

Gambar
Aku terbiasa dengan angan-angan tinggi dan tak bisa untuk meraihnya Seperti layangan yang terbang tinggi terhasud angin lalu putus benangnya dan tak tahu arah tujuan * Aku terbiasa menyimpan malu, rasa hati untuk tak kuungkapan Aku sendiri, mengelabui orang-orang di sekitar agar tak tahu sejatinya diriku Misteri yang terlalu lama kusimpan * Aku terbiasa tersakiti, canggung terkadang ingin kulari Tak main-main yang buat kepala pusing dan panas hati Andai derita ini bisa terkuliti * Akupun terbiasa sunyi, membiarkan bisikan alam menyelinap bernyanyi Suara kalong cekikik singgah di dahan rambutan Untuk sekian malam bulan berbinar tak satupun jawaban terakhiri Hingga fajar datang kembali bangunkan rutinitas petani

Melarat

Gambar
Tubuh ini selalu terpaut dalam dusta dalam kefanaan duniawi Rayuan untuk terus ragu dan bimbang Menyendiri lalu cemburu dan marah-marah sendiri * Mengapa sepanjang perjalanan hidup ini tak ada yang bisa mengetuk hati Aku hanyut dalam arus kemunafikan tapi saat kututup mata dan mencoba berlari, semak dan ilalang tajam coba menghalangi Itu tak berhenti Rasa sakit ini berkepanjangan * Tuhan Dititik nadir antara adzhan dan sembahyang Daku pulang mengetuk pintu permohonan Tiada lagi tempat aku berkawan Daku membawa bekal gagal dan rintihan Malang bukan keinginan sampai kapan mengutuk diri * Di ufuk sana masih ada sangkar kemuliaan namun jiwaku tak cukup sanggup untuk mendaki puncak itu Keteguhanku kini habis dan usiaku kian lama kian lenyap Bangkit dan selalu terjatuh Semua terkubur dalam hasrat Apa aku harus berpasrah...?

Celoteh

Gambar
Hidup kini kelam karena dosa Layakkah arang kembali menjadi kayu * Seiring ranting harap yang tumbuh menjumput hari Selaksa dari gunjingan dan dengki Hati yang telah terkurung dalam birahi Acuh pada teguran ilahi dan manfaat diri Serakah pada kepuasan duniawi * Bagaimana hendak menghias diri bila arang telah mencoreng muka Wajah penuh guratan luka dan jera Ingin ku berlari telanjang pada kejujuran naluri * Dimana hati kecilku, celoteh Daku marah pada diri sendiri

Berhenti Berharap

Gambar
Pernah dulu kumeminta mati, tapi tuhan memberiku cinta kasih Dia datangkan seseorang untuk aku mengenalnya Seseorang yang kupikir pantas untuk jadi pelabuhan dan harapan Ia yang mampu mengubah hari biru menjadi ceria, menuntut senyum dan tawa saat diri berduka Sejenak itu kuterpesona Kurindu, selalu menyebut namanya * Kalbu yang gundah Aku terpungguk selalu mengharap dia ada disini Menjejakan diri untuk menggapai angan tertinggi Membangun lagi mimpi yang dulu sirna oleh tradisi * Tapi hari menjawab dengki, ia singgah sejenak lalu lalang membangun kisahnya sendiri Hatiku terperih dan tak ada lagi yang kunanti * Bukankah itu pukulan yang berulang terjadi? Kemana aku mencari Mengejar mimpi dan kasihku Aku berhenti Menyepi dari kebisingan dunia ini Karena memang itu yang saat ini terjadi

Adagium Rafflesia

Gambar
Hidup terasing dari puji sanjungan Terlontar busuknya cacian orang-orang munafik Teguhkan jiwa untuk pasrah pada daya sang kuasa Berbeda, itu selalu mengisi sisi manusia selama dunia terus berputar * Hina ada pada mata manusia Mulia hanya subjektif yang ditata sedemikian indah Hidup terikat pada persepsi Bisa jadi kenyataan hanya ilusi Manusia menyuarakan beragam friksi, menutup naluri untuk benar sendiri Ekuilibrium kehidupan ada pada sisi negatif * Jiwa tak selalu ikhlas untuk terus dinilai sebelah mata Hitam atau putih seperti fusi untuk saling mempengaruhi Tak juga memantaskan diri ini suci Manusia ini dan manusia itu hidup dalam asumsi yang diyakini

Dan Memori Itupun Pergi

Gambar
Ketika kenangan yang indah hanya sesaat Berlalu hanya bekas dilema yang tersirat Kebersamaan adalah senyum untuk menyapa sekelumit batas kewajaran * Kita seperti bulir-bulir spora yang diterbangkan oleh angin Tak kan pernah menyangka bertemu dalam waktu dan tempat yang tak terduga Pada alam hanya berserah dan mengeja Semua tiba-tiba tanpa harus berbuat apa Apa mesti kita pikirkan bagaimana ini terjadi? Padahal kitapun tak menghendaki * Saat semua kebersamaan itu hanya tinggal memori dan keterpurukan Itu seperti duri yang harus dibuang Semua berakhir binasa dalam waktu dan dekap rindu * Melangkah pergi usah meninggalkan jejak terdahulu Ada pedih dan cemas Adakah yang indah menanti di ujung sana? Adakah cahaya yang memberi jalan hati yang pupus dan telah terkoyak * Berjejal duka terus menyambangi, mengarus emosi turut membawa keraguan Letih untuk mengenang kesedihan Terus terpuruk kan membuat sakit jiwa Setumpuk cerita yang harus diakhiri kisahnya Begitu banyak mi...

Suratan Takdir

Gambar
Bila sebongkah emas tak bisa kuraih setidaknya ada sebutir mutiara yang bisa kugenggam Bila semua impian yang kuingin telah sirna setidaknya masih ada kekuatan doa  dalam diri untuk mendatangkan keajaiban * Aku tahu..... Dibalik fajar terkadang mendung telah menanti Berharap berkah malah malang datang bertubi Lelah mencari dan menemukan kejayaan diri dan ambisi untuk membuka misteri jalan hidup ini Serasa alam tak mengingini dan makin menjauh dari orientasi diri * Jika badai mampu membuat layangan terbang tinggi, bukankah itu berkah tersembunyi Walau dia akan terputus dan tersesat, setidaknya ia telah memberi keindahan dan kebahagiaan Dan telah menjalankan apa yang seharusnya ia lakukan * Sebuah impian dan takdir mungkin tak selalu berujung menjadi temu Tetap naluri yang menggerakkan dan menuntun untuk satu pencapaian Tapi hiduppun sebatas jalan suratan Tak tahu kapan tiba-tiba ajal membawa pulang

Awan

Gambar
Tak ada yang lebih nyaman, saat langit biru tertutup awan Terik yang tak menyengat kulit Tak juga basah peluh di baju Tak gusar diri ingin berlalu Melangkah kaki melepas masa lalu * Tiada berkah yang terbuang, saat awal tebal memayung teduh Angin sepoi datang memadu Menyejukkan hati berpilu rindu Menghapus jeda kabut dinding pemisah * Apalagi yang lebih indah, awan mendung menutup langit cerah Rintikan yang menyatu dengan suara kalbu Hujan yang mengguyur sekujur anganku Memecah kemarau dan mendinginkan pikiran Saat diri tertunduk layu dirudung sedih berkepanjangan

Berkaca Di Balik Cermin

Gambar
Melalang hidup senja ditempa Meniti gairah mengumpulkan asa Sekian sabar menjadi pagar Selayaknya hendak agar hidup tetap berpijar * Bagaimana bisa melihat diri sejati Kututup wajah dengan khayalan Malu melihat aslinya raga Semilir doa sebagai pengecap akan dosa * Akankah malang jadi gelimpang Secerca harap bertumbuh makna Tumpukan nasehat sudah kusantap Tulusnya doa sudah kucoba Mungkin waktu tak pernah memihak * Melepas tangis hati dengan bisik ketuhanan Mengusap naluri membujuk tetap berpegang Mana senyum yang dulu bersinar Kupendam semua luka dengan catatan Seribu puisi menjadi ukiran hati Senyawa bersama mimpi dan angan tinggi

Hening

Gambar
Adakah hidup yang selalu kuat dengan tekanan jiwa Bahkan kematian akan lebih indah dari canda bahagia Masa yang berbicara tentang keagungan kisah Terhempas lisan dalam siksaan mereka Bagiku waktu tak ubahnya seperti api yang terus menyala * Mungkin keji Tapi terbiasa dalam anggapan miring Melihat diri beda dari wajarnya Hidup berujung pada naluri dan budi Akal terkadang membisu melihat cedera di jiwa * Aku muak dengan kata-kata brutal Menenggelamkan jiwa untuk menyalahi diri sendiri Memaki, menghancurkan kasih di hati Bisik lirih mematahkan tulusnya cinta dinanti Bersandiwara, terlalu polos untuk mencoba * Apa aku harus diam selamanya Melihat jiwa-jiwa terombang di luar sana.... Dan akupun sendiri di sini Disunyi malam ini Menuntun diri beranjak pergi atau luluh menikmati sepi

Menyambung Kenangan

Gambar
Duduk menyepi diantara kepala-kepala dan dahi-dahi yang nampak diantara permadani rumput Di banyak pohon rindang yang kokoh berdiri disini Di bawah pohon tak bernama aku mencari yang selalu merenggut nyali * Mengapa sepi di keramaian Mengapa pula gusar padahal tak ada yang mengancam Lembut angin yang datang tak memberi sejuk di badan Walau bernaung di rimbun daun hijau tapi tak ada rasa damai * Detik-detik mengingat lalu dan menyambung dengan kini Ada garis merah yang samar Garis yang menghubungkan kesamaan, rasa, waktu, jeda, problema dan ketiadaan Teruntuk membisu di gelapnya hari walau kini sangat terang * Getir itu ada Kesal itu muak Marah itu binasa Dan aku terbiasa dengan itu semua * Menunggu...... menunggu....... Cuma kata itu yang pas untuk saat ini Saat aku masih bersabar dalam duka, luka lama yang belum sirna

Deru Malam

Gambar
Dimana malam yang seharusnya kulalui dengan tenang Dimana kunang-kunang selepas magrib biasa datang bersinar Dimana bulan yang seharusnya telah bertemu dengan bintang pujaan Berkunjung malam hanya sabar dan sunyi bersemayam di hati * Selalu kuingat tuhan sang pengatur semesta alam Ia mendengar jeritan terdalam Luka yang terus kuperban Kusembunyikan dalam kelamnya gunjingan Makin gersang hingga hati seram bagai belantara hitam * Cinta...... Tersayat menganga dan binasa Menyudut belati hingga ke hati Mengumpulkan segala sakit menjadi siksa * Datangkah penawar yang kan memberi kesembuhan? Mengukir kehidupan yang indah Dan memberi harapan kebahagiaan tiada tara

Tabuhnya Malam

Gambar
Tiada berbaju Selimut pengantar istirahat dalam lelah Merinding dalam dinginnya sunyi Hayat yang ada terlena dan tergaguk dalam kesia-siaan * Melintas khayal menyentuh sanubari Ada sedih yang tak terucap Menahan desakan meninggalkan lajang Teracun dalam pemikiran kotor Terbuang dari ruang iman * Mata yang sulit memejam menatap kosongnya tujuan Masihkah esok kumencium embun pagi Menyambut hari dengan riang dihati atau termangu dan terus menanti * Hidup yang gersang terus terlalui Tak ada kelembutan yang mengisi tulusnya hati Sedingin angin malam polos tak bermakna Meniti gentingnya cacat jiwa Gunda terus melukai Tanpa pegangan, tanpa kasih, tanpa ada yang menemani

Bukan Surga Atau Neraka

Gambar
Haruskah kulepaskan kebahagiaan ini Aku tak menginginkan surga Tapi siapa yang sanggup jika harus tersiksa di bara Aku tak harus memilih, tapi akhirnya kuharus memilih Karena manusia tak diberi kebebasan, manusia hanya diberi pilihan Dan tunduk pada aturan

Sayap Tak Bertuah

Gambar
Sayap yang telah kujalin indah berharap bisa membawa keliling cakrawala Melihat segala keindahan yang tak pernah kurasakan Terbang.... sampai ku lelah dengan rasa jemu * Kasih yang ingin kugapai dan kukenang menemani sampai detik akhir hidup ini Dalam harap tiada henti itu kan segera terbukti * Sayap ini seperti sayap merpati bukan sayap besi yang bisa mendobrak jeruji yang terpatri kokoh di ruang ini Ada istana yang harus kuruntuhkan yang telah indah dan tegar Walau di dalamnya penuh emosi dan ketidakpercayaan * Kapan aku kan sampai padamu?

Pelaminan Yang Tak Dinanti

Gambar
Roda dunia berputar dan meningggalkan zaman dulu era kini Berkembang dan bergerak tanpa henti tanpa ada batas menyalahi Waktu seperti banyak cabang yang dilalui Membawa anak manusia pada titik dewasa Segala hal jadi pilihan, pengorbanan, dilema dan tanggungjawab * Kini ku terbusung dalam jerat problema Bujukan orangtua mengharap anak segera menikah Membangun rumah tangga Menjejak hidup baru penuh kasih, rukun dan sejahtera * Seribu tamparan membukam mulut berkata Kata hati tak bisa dibohongi apalagi menghancurkan cinta yang telah tertanam indah Telah melekat dalam diri, menjadi doa sepanjang masa Tak dapatku menyimpan kejujuran * Kata-kata yang tak bisa bersuara Memendam dalam jerat hati membara Mengutuk diri hina Terdiam dan terus tersakiti Bukan tak ingin seperti sahabat yang duduk di pelaminan Kebahagiaan yang terpencar di wajah Menebar senyum menjadi dewa dewi cinta Berkuasa dalam singgasana asmara * Ah.... perihnya hati Sepasang mata ini tak ingin merinti...

Bertasbih Pilu ☆

Gambar
Menggenggam kain lepas di tangan Merenggut senyum tiada tertawan Semilir hujan guntur menggelegar Hidupku malang bertanam cacian * Cinta suci tak dapat dipaksakan Menangis diam di rongga sengsara Hatiku tentang diriku Kesalahan bukan daku seorang * Bersarang cinta dalam debut asmara Menggiring waktu yang tak pernah pudar Pilu dan keluh tersipu guratan luka Jiwa bertasbih menuntut asa Tersimpuh menggapai cahaya yang maha kuasa * Diri merongrong di himpit kehidupan Dada dilumat dengan alunan tembang durma macapat Syair cinta terserak di ujung lidah Berguguran di pembaringan jiwa gulita