Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi Petani

Petani Tak Bertahta

Gambar
Petani selalu tersisih! Di tempatku dan pasti juga sama di tempat lain Bertani, berkebun dipandang sebagai pekerjaan rendah Pendapatan rendah dan pendidikan rendah * Entah apa yang mereka pikir Mungkin bercocok tanam selalu bersentuhan dengan tanah, lumpur jadi dianggap kotor, bau dan dekil Padahal bertani butuh skill tersendiri Tak sekonyong-konyong bisa terjun langsung jadi petani Dengan pengalaman, melihat, semangat dan kerja keras adalah modal untuk jadi petani Orang malas dan gampang putus asa takkan berhasil jadi petani * Miris, petani di negeri ini jauh tertinggal dibandingkan negara maju Disana mereka mempunyai lahan yang luas Mereka menguasai teknologi untuk menunjang kualitas dan produktivitas Para ilmuwan selalu mengadakan penelitian untuk membuat varietas terbaik Dan selalu siap membantu petani dengan berbagai masalah lapangan yang dihadapi Pemerintahnya sangat memperhatikan kesejahteraan bahkan jika gagal panen petanipun dapat tunjangan * Pemerintah repu...

Syair Dungu Petani

Gambar
Aku bersenandung dalam bisu yang melukis gubahan hati Aku datang dari kebingungan yang terpendam dalam ruang kepiluan Aku ada dikegaduhan jiwa yang luka Akulah petani itu, yang menunggu zaman memanggil namaku * Aku disini melihat benih tumbuh sampai menjadi pohon yang menutup rimbunan langit-langit kebun Aku sendiri dalam tanya-tanya hidup yang sering memanggutku Kadang aku lapar dan marah pada semua yang mengganggu bathin dan ketenanganku Dan masih tak mengenal sisi arti hidup yang kujalani Namun aku bahagia saat burung-burung kecil membuat sarang di semak yang terlindung dari panas dan tersembunyi dari pemangsa Tetap aku masih gagu untuk menatap masa depan yang tiada henti membuat senyumku menghilang Hidupku pasif penuh dengan cabik-cabik kedunguan

Jangan Tanya Gajiku!

Gambar
Jangan tanya berapa gajiku! Tanyakanlah pukul berapa aku berangkat kerja Agar terik matahari siang tidak terlalu lama menerpa kulitku * Jangan tanya berapa upahku! Tanyakanlah berapa banyak tenaga dan semangat yang kubutuhkan Agar setiap hari dapat mengais rupiah dengan wajah merah letih pulang kerja * Jangan tanya berapa bayaranku! Kau cukup tahu, berapa lama uang halal kukumpulkan untuk memenuhi segala kebutuhan Bagaimana cara membagi pendapatan untuk konsumsi dan tabungan Bahkan menabung berbulan untuk sekedar membeli smartphone * Jangan tanya seragamku! Aku seorang petani yang terbiasa dengan kesederhanaan dan sahaja Tanyakanlah! Berapa banyak karunia Allah untukku Agar aku terus bersyukur dan kemudahan yang Ia limpahkan kepadaku

Sebuah Parang

Gambar
Parang hitam kupegang menelusuri rimbun rumput ilalang Berteduh awan matahari pagi Udara dingin masih meneteskan embun pada ujung-ujung daun * Parang kemarin sore kuasah tajam Telah tersiapkan terbas gulma yang kan dibersihkan * Menggenggam cekat ayunkan bebas Bersibak segala tumbuhan merintang Bersihkan kebun semak dan belukar * Parang gempal hitam tajam Letih tenaga tangan memegang Capek sudah badan berpeluh Mentari terik tanda untuk pulang

Bibit Ekonomi

Gambar
Pagi sangat cerah Berbondong telusuri kebun pekerja Jalanan baru rampung dibuat sebulan lalu Naik carry mengusung bibit karet * Hari ini tanam ulang Dari sekian yang mati dan garing tandur sebelumnya Menjelang siang matahari terik panasnya Kulit terasa bak terpanggang  Baju menempel seperti strika Peluh menguap tak sisa Tembilang sibuk melubang tanah 30cm Huh.....panasnya * Kerja petani teramat berat Sigap badan dalam segala kerjaan Beban sedikit berkurang karena benih bantuan pemerintah Petani tetaplah petani Hidup sederhana tlah lumrah * Lihat deret tanaman ini Bibit ekonomi masih kerdil dan lesuh Butuh biaya untuk merawat Banyak tenaga untuk menjaga Terikat sabar sekian tahun tuk menyadap Dan sabar lagi Ketika harga komoditi murah Kebutuhan pokok melambung tinggi * Di negeri Jambi ini Perkebunan karet dan sawit penyumbang pendapatan terbesar daerah Diikuti pertambangan Mengangkat ekonomi bangsa walau ekonomi rumah tangga susah Lihat saja di masyarak...

Panen

Gambar
Padi padipun indah menguning Menghias hamparan petak kotak-kotak Petani senyum menatap sawah Walau kerja terik keringat menguap Buahkan hasil nampak sedap di mata Esok akan siapkan tenaga yang sisa Panen raya para petani gembira menuai padi sawah * Ini rezeki yang tuhan limpahkan Bulir-bulir emas sesak ranum Merunduk padat gempal berisi panjang Menari digoda angin sepoi kunjung datang * Langit seakan enggan mendung Mendukung padi yang siap diuntung Jangan teteskan airmu di tanah sawah ini Deras menghanyutkan emas kami Tenggelamkan batang asa yang tegak melambai * Petani rajin bekerja Hasilnyapun melimpah ruah Begitupun hari yang ditunggu berminggu minggu Capek kesal Letih lelah Hilang lepas dalam kenang Apabila hasil jualpun tinggi dipandang

Musim Hujan

Gambar
Hujan turun tak henti berkepanjangan Ku lihat dari bilik jendela kamar Suara deras berisik gemericik Bulir memukul tanah becek Pelan suara guntur menyeru Datang sahut menyahut Irama alam tak bertuah * Angin berhembus dingin mengarah Udara merasuk dinding pori Gigil gemetar tubuh kecil Suasana damai lunturkan masalah * Selokan air limpah ruah Hanyutkan segala makhluk tak daya Anak katak berhambur Siput kecil terseret dalam lumpur Semua kalang kabut * Musim hujan telah tiba Kolam sungai meluap ke tepi Kehidupan telah mati berseri kembali Rumput panjang terhampar menjalar Daun hijau datang bermuncul * Semoga hujan ini selalu berkah Beri manfaat pada semua Walau kini tlah lama tak bertanam Hujan banjiri ladang kebunku

Hujani Tanahku

Gambar
Lihatlah sumurku mulai kering Kolamku nampak lumpur Bunga layu lesu Pohon meranggas sakit Sawah kebun tak berseri * Hujan kapan kau turun Basuhlah tanah ini dengan derasmu Udara kembali bersih Tanaman tersenyum bersemi Petani riang bernyanyi * Hujan Tetesanmu kami nanti Hadirmu kan memberi arti Tanpamu kami mati * Wahai langit Kumpulkanlah awan gelapmu Bentuklah gumpalan serdadu Jangan kau ragu Seranglah kami dengan bulir peluru Biar bulir itu menghujami ladang emasku Seperti itu yang kami rindu * Tuhan Suruhlah langitMu patuh Berilah kami nikmatMu Jangan murkai negeriku Sesungguhnya Kau maha tahu Apa kesusahan hambaMu

Negeri Petani ☆

Gambar
Dalam kebun ini Ku lemparkan semua kesal yang menumpuk Ku buang semua mimpi tak tergapai Ku tinggalkan segala cita * Hasrat ingin menjangkau luar sana Menapaki dunia raja Menempati nirwana asa Lepas bebas Ku tak bisa terdiam di tanah ini Merenung nasib Inikah hidupku * Bawah pohon ku termangu Lihat daun juntai meliuk Pohon papah deret panjang Buah hitam merah ranum Tampak kilap keras Duri tumbuh sisi ujung Minyak dari dalam dirinya * Tampak sekitar sana Hijau menghijau daun kecil Kuning berguguran Bergelanyut tiap ranting Tetesan penuhi cawan Bak air susu tempayan Disadap baru keluar * Ini emas kami Pusaka kami nan abadi Jangan keliru kalau kau tak tahu Jangan coba hina diriku * Inilah rezeki tuhan berikan Padaku dan jutaan rakyat negeri melayu Jambi Puji syukur Kami makan hasil keringat kami sendiri

Sawo Matang

Gambar
Seonggok batang sawo tertandur belakang rumah Ya, hanya sebatang Tumbuh berhimpit dengan jambu biji dan mangga  * Buahnya selalu hadir Tak ada musim untuknya Warna coklat kasar berbiji Aroma manis menggoda Semua suka * Tak jauh darinya Kebun luas keluarga Tempatku cari nafkah Tumpuan segala asa Segala curahan tenaga * Kerja tiap hari Pagi sampai siang datang Mentari jejak menyinar terang Memapar kulit jadi sawo matang Ya, untung cuma tanganku * Hidup harus disyukuri Apapun itu Mungkin saja suratan takdir Tak usah malu dengan kerjamu Selama halal bagimu Tak usah iri dengki Toh... tuhan juga pemberi rezeki

Petani Kerdil

Gambar
Kala surya terbit menyilau Bersinar perdu di ufuk timur Memanggil alam bernyanyi riang  Riak hidup bangunkan diri Derap petani melangkah pasti * Kau bekerja separuh hari  Kau tanam bibit benih  Kau jaga dan kau kasihi Bagai rawat anak sendiri * Petani yang di sawah di ladang di kebun Bekerja keras saat mentari siang berpijar Terpanggang bak arang Dengan semangat tetap meradang Demi hidup jauh lebih mapan * Kerjamu teramat berat Tulangmu sungguh kuat Uratmu tampak ketat Gerakmu cukup cekat  Karena kamu manusia hebat * Tetes keringatmu untuk hidup kami Panenmu bahan baku industri Kerja kerasmu untuk gerak ekonomi Harapanmu memberi kemakmuran negeri Jasamu besar bagi kemajuan bangsa ini * Tapi mengapa Kau terkerdil karena rupa kerjaan Tersampir karena hinaan Tak terpandang karena jabatan Tak di anggap karena rendahan Diremehkan karna kerja kotor dan berlumpur Tak berpikirkah mereka * Orang-orang tak tahu berterimakasih Hanya berpangku duduk...