Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi Harapan

Remang-remang

Gambar
Remang-remang di senandung malam Termangu bimbang Menilai orang dari sudut pandang Duniaku yang tak mapan * Remang kembali mengawang di altar Di penantian yang kunjung datang Tersungkur di dahi pengharapan Menjejaki hari dengan lajang

Kering Bergulir

Gambar
Angin sejuk tak pernah tiba, udara panas bergulir membakar senja Debu menghamburkan kekeringan Kaca jendela seketika bening menjadi pekat kelabu * Daun pucuk muda muncul terus gugur Ulat mulai kepanasan Akar dan rumput kehausan Tanah padang nampak retak Namun matahari tak pernah peduli * Bagaimana embun akan turun segera bila di awal hari terik fajar sudah menyeringai Menyusuri jalan kebun semua lalang berjejer layu Pohon menunggu hujan tapi langit masih acuh Dan burung terus berkicau dengan doa agar sangkar tertutup rimbun daun Kapan awan mendung kan menutup langit meneteskan kesejukan

Lentera Bintang

Gambar
Aku suka cahaya malam berhias lentera bintang Menyejukkan mata memandang, melambungkan angan terdalam Dipenantian rindu merebahkan diri di pangkuan bangku taman * Sang bulan yang terus berjalan menyisir malam, melihat langit dipenuhi doa-doa pengharapan Menanti mentari fajar untuk menjemput impian Semua tentang penghayatan diri tentang kekuatan iman Semua kan berpijak pada waktunya kan tiba * Selama bintang disana masih terjaga Walau kerlip jauh untuk digenggam Walau jarak adalah kesusahan Harapan sekecil apapun kan berguna untuk menggapai mimpi yang ada

Oasis Kelanaku ☆

Gambar
Aku mencari kesejukan dari gerah suasana hati yang suram dari bisik ilahi Ada segumpal awan yang menutup naluri untuk mencari sebentuk kasih Aku terpinggir oleh akalku sendiri Seperti mengharap keajaiban muncul pelangi tujuh warna di timur langit malam ini * Dimana gerbang keluar? Menatap khayal berputar-putar yang membosankan Sejurus hasrat dengki pada dia yang telah menikamku Penasaran dimana aku harus berada, takdir yang masih tersembunyi Kuturuti dan apa nanti di depanku sedang kini menyulam sepi * Irama menyayat nada memperdengarkan kisah tak terarah Hilang kendali tapi hati ingin kembali mengharap padaNya Doa tengah malam menyanjung pujian akan semburan jawab dari semua pengelanaan hidup Tentang kasih dan semua yang ada disini * Aku berdiri pada kaki-kaki yang telah letih Jiwa yang membara berkarat juga akhirnya Suara yang mulanya suka lambat laun hilang terusap airmata * Dan terus kubiarkan sunyi Cuma itu yang setia

Yang Tertunda ☆

Gambar
Tak ingin hidup dalam kepalsuan Ingin jujur Tapi selalu tertahan * Kita bukanlah siapa-siapa kan! Hanya manusia yang nista Setiap orang membawa dosa di punggungnya Lalu untuk apa bersandiwara? Dan siapa yang kau dustai selain dirimu sendiri * Kita terlahir sama tanpa nama dan gelar Mengapa harus sembunyi? Siapa yang tahu derajat manusia selain tuhanmu sendiri Apa kau merasa lebih baik dariku? Kesombongan! * Itu yang kumau Terucap sama antara mulut dan hati Tanpa syarat tanpa uji nyali karena tekanan hidup terkadang memaksa diri untuk terus sembunyi Takut pada pandangan orang dan tatapan benci * Tuhanpun mengetahui isi hati dan setiap keburukan yang tersembunyi Lalu mengapa lebih takut pada manusia daripada tuhan itu sendiri Siapa yang selama ini jadi penolong, penyelamat dan pemberi nikmat?

Pasir Berbisik ☆

Gambar
Pasir Masih terhampar di seberang birunya lautan angkara Angin yang berbisik tak mampu menggulingkan butir untuk berputar Setapak kehidupan curam tak berujung membawa padam asa akan cita Di ufuk sana siluet senyum mentari telah sirna selaksa semesta melepas tahta * Dikemurungan antara siang dan malam aku sadar akan bimbang Mengapa senja selalu sama Diri inikah yang salah, terjaga selalu akan dosa Sakit yang kurasa bukan kepalang Tak terlihat kasat mata tapi batin selalu tersiksa * Bagaimana bila sebulir air itu membatu menjadi sebutir pasir di daun talas Apakah ia juga akan goyah mengikuti arus? Tapi hati ini terlalu lembut untuk jadi batu Aku pilih berdiri pada naluri sebab bila kupergi ke ujung dunia, ketidakpengertian dan kejamnya mulut manusia pasti kubawa Namun aku lebih tahu kini Keterusterangan akan sejatinya diri harus dipertahankan walau harus menitikkan darah

Kidung Pagi ☆

Gambar
Menyemangati hari dengan dendang pagi Dalam lukisan dingin embun-embun yang menari di ujung daun jambu merah Indah Tapi tak pada diri Begitu jelas ada rasa yang telah pergi Berlalu tapi masih terpatri di hati * Sadarkah diri pada berjuta mimpi yang telah lepas jauh Sendiri Menyulam luka membalut duka lara Ah..... terbiasa * Nantipun awan putih akan tersenyum indah Dan senja akan menghias cakrawala dengan aurora sukma Menyapa lembut angin malam yang larut dalam lamunan Semoga nanti ada pengganti Lambat laun tunas gugur pasti berganti bunga Kuyakin

Doa Malam

Gambar
Pada langit yang telah gelap dan bersemayam sunyi Aku luluh dalam kalut yang mendera Pada bentang cakrawala dan lengkung bianglala Teteskanlah embun di sajadah ini Biar kuambil bulir itu untuk membasuh wajah sebagai penyejuk dan ridhaMu atas segala hasrat ini * Di penghujung tahajud hamba ingin berteduh di maghfirahMu Karuniakanlah cinta dan kasih untuk diri yang selalu terlumpur dari dosa Membasuh dosa tak semudah membuang daki lalu bersuci Daku ingin tersinar cahaya keagunganMu agar kudapat selalu berada dalam jalan kebaikan * Mencium sajadah seperti tunduk mencium kakiMu Merendah dalam ketidaktahuan dan kebodohan Hamba bukan manusia yang pandai dalam tahlil dan tahmid untuk menggelorakan kemuliaanMu dengan nyanyian pujian Hamba hanya mengetahui tahtaMu melebihi bumi dan langit Engkau yang berkuasa dan mengatur segala urusan dunia Aku cuma bisa luruh dalam segala permohonanku * Setiap desah nafasku selalu berada dalam genggaman mautMu, syukur atas segala detak jantu...

Embun-embun Langit ☆

Gambar
Ketika pelangi tak dapat berlari Yang menghias selepas rintik Kehadiran dewi kahyangan mengutus kalimat sang Pencipta Daku Balutan tubuh yang penuh warna dosa Dosa jalan kegelapan * Diamku adalah kedamaian dari rongronganku Menyendiri karena tak tenteram berisiknya teguran mereka Berdalih dengan apapun saat jiwa terkoyak lara Langkah kaki tak mungkin terhenti hanya karena mentari tenggelam sore ini * Jika hitam sudah berkabut Saat sinar bulan mengganti sinar sang surya Saat terang benderang menjadi samar Pencari taubat memanggil Ilahi Ingin ada kesejukan embun yang Ia teteskan dari langit Menyapu dahaga di keringnya kerongkongan dari asma' mulia * Dan biarkan angin daratan bertiup teduh Menggiring awan hitam menjauh, lalu Langit biru yang berawan putih menjadi hari baru Dalam kedamaian dan ketenangan menjejaki hidup ini

Embun-embun Langit

Gambar
Ketika pelangi tak dapat berlari Yang menghias selepas rintik Kehadiran dewi kahyangan mengutus kalimat sang Pencipta Daku Balutan tubuh yang penuh warna dosa Dosa jalan kegelapan * Diamku adalah kedamaian dari rongronganku Menyendiri karena tak tenteram berisiknya teguran mereka Berdalih dengan apapun saat jiwa terkoyak lara Langkah kaki tak mungkin terhenti hanya karena mentari tenggelam sore ini * Jika hitam sudah berkabut Saat sinar bulan mengganti sinar sang surya Saat terang benderang menjadi samar Pencari taubat memanggil Ilahi Ingin ada kesejukan embun yang Ia teteskan dari langit Menyapu dahaga di keringnya kerongkongan dari asma' mulia * Dan biarkan angin daratan bertiup teduh Menggiring awan hitam menjauh, lalu Langit biru yang berawan putih menjadi hari baru Dalam kedamaian dan ketenangan menjejaki hidup ini

Lelaki Di Ujung Malam

Gambar
Ku ucapkan dengan tenang dan perlahan Segala rasa dan genangan duka dalam wirid yang kupanjatkan Aku yang bersembunyi di balik kegelisahan Di balik remang-remang kehidupan Jeraku yang kupendam Diriku yang terhasut dusta Sering kulantunkan dendang malam dengan tangisan * Terpejam mata di ribuan masalah yang memburu Kalut hati kekal bersemayam di peradu Alurnya hari kian menjemu Sampai kapan harus lari sedang ribuan caci sudah biasa kutelan * Berlindung aku di waktu shubuh Bertekuk kaki mengiba di hangatnya sajadah Gelisah yang ku utarakan dengan doa dan kepasrahan airmata Meresapi semua yang telah Ia cipta adalah kehendakNya * Aku tak mau merusak dzikir ilahi Karam Ruang rinduku yang tak terisi dengan mihrab cinta Bermanja sepi sampai fajar pagi menerpa sendu wajah ini

Tergeming

Gambar
Kutuntaskan sekali lagi rasa lelah dan bersalah Ingin banyak kusampaikan maaf Hidupku sepertinya membebanimu Akupun bukan biadab dan bukan seonggok kayu yang tak bernilai Kutelusuri segala yang tersirat dibenak Mendekap pada naluri dan harapan mimpi yang kokoh Lajur intuisiku akan kubuktikan * Mempertahankan diam hanya mengisyaratkan lara yang tak pernah pudar Setetes airmata terseret lepas saat bercermin dalam duka Guman hati pergi menjauh Berguru pada waktu dan takdir yang menuntun jalan pikiranku Sudahlah cukup aku ingin lepas semua ini * Dengan apa aku memberi tahumu Rengkuhan sukma telah membatu Tersudut dengan sindiran dan ucapan yang selalu menikam perasaanku Rona wajah yang nampak tercerabut kemayu Nanti, biarkan aku meninggalkan kampung ini

Hari Berganti, Fajar Menyingsing ☆

Gambar
Membuat harapan baru kadang tak terburu Mengalisis suasana baru yang muncul harapan palsu Mengharap durian runtuh tak satupun yang jatuh Mengharap keberuntungan kan datang yang ada kemalangan yang tak diundang * Tahun baru, resolusi Itu tak ubahnya pergantian hari Setiap hari akan dimulai terbit fajar Setiap hari dimulai doa di waktu subuh Bukankah itu juga yang diperbuat olehmu * Jika keberuntungan bisa diciptakan setiap hari Mengapa harus menunggu tahun baru Jika menjadi pribadi yang lebih baik bisa dilakukan sekarang Mengapa harus menunggu tahun baru * Tahun baru hanya bertambahnya angka tahun Malang atau mujur Banyak orang-orang yang masih menderita terkena dampak bencana saat tahun baru Malang atau mujur Kau tahu garis hidupmu tak lepas dari takdir yang maha agung Malang atau mujur Tersenyumlah, karena kita masih diberi umur untuk menikmati fajar ini dan bekerja sampai petang nanti

Orang Tua Dan Skeptis Masa Depan

Gambar
Terbaring lemah di ranjang. Kata hanya patah sepatah. Tak daya makanpun hanya dua suap sendok bubur nasi. Bertahun sakit terkadang sembuh sesaat kumat lagi dan kini sudah sebulan lunglai sampai buang hajat di tempat tidur. * Dulu masih gesit kerja sampai lupa menjaga kondisi badan agar bugar. Seharinya bekerja, ibadah dan bekerja mewujudkan mimpi agar hidup sekeluarga berkecukupan tanpa harus kurang makan untuk istri dan tujuh anak titipan tuhan. * Kini aku yang tinggal bersama ibu untuk merawat bapak karena enam saudara lainnya sudah sibuk mengurus rumah tangga sendiri. Sesekali menjenguk tapi apa yang mau diharap, toh.... mereka sudah punya tanggungjawab yang mungkin lebih penting sekedar merawat orang tua. * Sendiri, sudah biasa dengan aroma tak sedap membersihkan dan mengganti popok. Jijik, tapi harus! Siapa lagi?. Bisa jadi ini pengabdian terakhirku untuk bapak. Semua ada hikmah tak harus bertanya, mengapa? * Ketika senja hanya tinggal senja dan malam berlarut dalam lamun....

Berharap Indah Pada Waktunya

Gambar
Bahkan diri ini belum sempat merasakan kasih sayang Di tepi jembatan penantian menunggu kepastian atau tidak Bathinku terseok dengan luka-luka yang menjebak Tersebut masih terus merasuki dan membisikkan kefrustasian * Jeda waktu siang dan malam atau bergantinya hari menjadi bulan, padamnya jiwa semakin menjadi Prasangka gila dalam dekap palsu Tak ingin lagi tersesat dalama jeruji pengasingan Apalagi itu menyakitkan hati Membuat dada sesak sampai mengutuk diri sendiri * Diri laksana pohon di musim salju Kedinginan, pesakitan, tak bergerak Hanya berharap nanti di musim semi segalanya kan jadi ceria Daun-daun yang hijau dan bungaku yang mekar akan disukai banyak orang

Melepas Kedukaan ☆

Gambar
Segelintir kisah lalu telah menjadi gerimis di mata Sudah saat di tinggal dan menghempas Menumpuk lara takkan indah Nuansa baru yang ingin disapa * Sekedip mata yang melihat hari kan jadi indah Menatap birunya langit kiranya membuka celah bahagia Menggenggam asa mengayun jiwa melepas duka Kaki berpijak pada kata hati Semua kini kan kutinggal Yang lalu biar mengabur dalam debu * Tak luput wajahmu kan kubawa Pengingat atau penyemangat ataupun bukan itu * Waktu telah membisik dan menuntunku Yang kan terjadi tak takut kan kulawan Keyakinanku tak pernah berubah * Angin itu kan datang dan pergi Menggiring awan hitam untuk mengguyur hujan di tanah tandus Memberi harapan akan kehidupan baru Saat kujejakkan nanti kaki di tanah impian Ku kan jadi benih yang baru

Lamunan Malam

Gambar
Dingin malam sampaikan salamku padanya Bahwa aku merindu senyumnya Hati ini tak bisa menipu Diri ingin ada dalam pangkuannya * Awan malam bawalah dia terbang disisiku Menghampiri jiwa yang semakin kelabu Aku hanya ingin kasih Cinta yang tiada pernah kurasa abadi * Rembulan malam hangatkan cintaku padanya Beri kami ruang untuk menyapa Biar sirna gelisah menjadi canda Getar suara hati ingin bersama * Cinta ini yang kini kurasa Keresahan hati semakin menjadi Memiliki, merantai hidup berpeluk bahagia Semoga ini bukan lamunan semata

Di Akhir Bulan

Gambar
Bila tanggal muda dan tua hanya deretan angka dan hitungan minggu Terlewati dan lalu pergi Jejak hanya meninggalkan keluh kesah Warna hitam atau merah sama saja * Di akhir bulan selalu menautkan harapan baru di bulan depan Semoga akan jadi lebih baik, indah dan penuh makna Meramal zodiak bukanlah kepastian Bertanya pada bintang terlalu jauh untuk mendengar Matahari akan tetap bersinar untuk memulai pagi dan menutup petang * Doa selalu tersirat di bibir dan sajadah Mencium aroma ke-Tuhanan yang maha kuasa atas segalanya Menempah diri dalam kesabaran Mengorek hati untuk melepas dengki dan iri Dan menyulut lagi api semangat Untuk menapaki empat pekan kedepan

Terjal ☆

Gambar
Hari hanya berganti seadanya Waktu bergulir menuju petang nan layu Gerimis datang sesaat dan hilang di panas bulan ini Debu mengebul saat matahari menyeringai tengah hari Bersama menumpuk kepenatan dan bosan di lirih hati * Kadang merasa terhempas di tajam karang kehidupan Terjungkal dan sulit berdiri meraih pijakan pasti Tertipu akan terlenanya syair mimpi yang membisik naluri Terus kucari, hampa yang terjadi * Terputus aku mencari harap Tapi harap itu pasti Pasti akan terjadi kan? Selama diri masih memelihara impian

Tak Pernah Berhenti

Gambar
Ketakutan yang mengusik hati Kini semakin menjadi dan lagi Terjerembab di kubangan naluri Masa ke masa semakin menambah lara * Jika nyawa ini bisa kulepas tanpa dosa Pasti telah kulakukan dari dulu * Adakah orang ingin dibenci Adakah orang ingin disakiti ........ tak ada Mengapa begitu hina dipandang Aku manusia yang ingin hidup damai tanpa tekanan * Pernah berhenti untuk berharap Binasa dalam sikap Hancur hati Mengutuk diri sendiri * Kini aku bangkit dan terus mencoba Mencoba sampai nyawa ini terputus dengan sendirinya Sampai semua takdir untukku ditutup Dan ketika ajal memanggil namaku