Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi Kecewa

Bercermin Pada Dinding

Gambar
Aku diberi usia tapi tak diberi cinta Mengapa? Aku diberi derita, diberi hina tapi tak kunjung usai Mengapa? Aku diberi perjalanan, di beri pikiran, diberi angan tapi tanpa tujuan Mengapa? Di waktu ini langitku runtuh jiwaku remuk Aku bertahan tapi berada di titik nadir dan ini sekian kali Mengadu pada sajadah tak pernah menuai jawab Bicara pada angin hanya sia ujungnya Lalu kemana lagi aku berkata Tetesan air mata telah menjadi batu luka Kerinduan diri yang berbalut semu Melampiaskan kesal pada mereka tapi jiwa tak pernah sembuh dari nista Aku pasrah Aku insan yang bercermin pada dinding putih Agar aku bisa sembunyi dari tatapan mata mereka Hingga orang-orang hanya melihat ragaku tapi tak pernah tahu deritaku

Ketika Badai Cinta Melebihi Badai Samudera

Gambar
Kau mungkin tak percaya, aku tak dusta ini terjadi Aku yang dulu acuh dengan apa yang namanya perasaan Tidak mau tahu apapun yang namanya hati Tak pernah berangan untuk memadu kasih * Mimpi dan khayal cinta hanyalah dongeng dalam keyakinanku, atau mungkin itu untuk kisah orang bukan diriku Aku beda dan tak mungkin berkelut dalam cinta * Hari-hariku yang tandus kupikir itulah hidup yang mesti kujalani Terbiasa dengan itu dan tak mungkin untuk melepas Aku tak mengelak Kujalani hidup dengan senalarnya  Tak peduli dengan tujuan hidup, manusia sepertiku hanya mampu untuk bertahan * Hidup yang dulu sepertinya damai, tenang walau penuh tekanan Berusaha selaras dengan lingkungan sekitar Apa yang bisa diharap? Sebesar apa yang bisa kurenungkan jika kusadar diri ini berkutat pada ladang dan pohon  Kampung dan petani * Aku sering mendengar orang bicara cinta Penyair yang membuat kisah romansa Atau pelantun yang membuat nada indah Itu semua mengarah pada hati yang berkata asma...

Berhenti Berharap

Gambar
Pernah dulu kumeminta mati, tapi tuhan memberiku cinta kasih Dia datangkan seseorang untuk aku mengenalnya Seseorang yang kupikir pantas untuk jadi pelabuhan dan harapan Ia yang mampu mengubah hari biru menjadi ceria, menuntut senyum dan tawa saat diri berduka Sejenak itu kuterpesona Kurindu, selalu menyebut namanya * Kalbu yang gundah Aku terpungguk selalu mengharap dia ada disini Menjejakan diri untuk menggapai angan tertinggi Membangun lagi mimpi yang dulu sirna oleh tradisi * Tapi hari menjawab dengki, ia singgah sejenak lalu lalang membangun kisahnya sendiri Hatiku terperih dan tak ada lagi yang kunanti * Bukankah itu pukulan yang berulang terjadi? Kemana aku mencari Mengejar mimpi dan kasihku Aku berhenti Menyepi dari kebisingan dunia ini Karena memang itu yang saat ini terjadi

Kicau Petir ☆

Gambar
Menerka peristiwa di ruang silam Ketika musim berganti bulan, ketika diri terlena pujian Dia memberi cinta tapi menabur garam di atas luka Duh..... aku terburu * Ternyata diriku masih lugu Singgah aku terbujuk dalam dekap palsu Mata ini terkelabui lamanya sepi mengukung diri Saat kusadar dia bukan milikku * Malam itu kicau petir tak berguna sedikitpun Terlalu hampa hingga matipun tak takut Kalut tak sebanding hujan deras menderu yang mengalir membanjiri lajur-lajur genteng atap rumah Tangis hati inginku menutup nyawa Berharap itu hanya mimpi yang menyapa dalam kefanaan * Malam nampak abu-abu dalam penglihatan mata Seolah tak ada pagi menyambut di ujung hari Rasanya tak ada hari lagi yang sanggup kulalui Asa frustasi Terkadang sendiri itu lebih baik daripada bersama tapi berakhir setumpuk luka

Terkelabui

Gambar
Sembari senyum ia sangat mempesona Wajahnya terlalu lugu untuk berbuat semena-mena * Sang puan berkelana mencari harta Segenap daya yang ia miliki menjadi setumpuk niat merubah nasib walau terbatas ilmu Ia berdiri di atas kepercayaannya, sangat tertata meski sederhana Jiwanya penuh kasih Nalurinya pun menjadi nakhoda menggiring pada satu gemerlap kota * Perlahan ia bicara Tentang kini, lalu dan silam Seraya ia menghela nafas dan angin bertiup meronai sekujur tubuhnya Suara selembut pasir pantai yang menjejak kelam waktu silam Sang puan sepertinya pernah terombang dalam ketidakberdayaan Ia sendiri merasakan sakit tapi tetap ia lakukan Entah apa yang ia pikirkan * Ciuman-ciuman kasihnya mungkin mengenang Tapi lenyap dan lepas hanya ditiup angin hasrat Mungkin kini hatinya berlari kesana-kemari mencari tambatan untuk disayang kembali Akupun tak duga Sepertinya aku tertipu wajah puan yang lugu itu

Patah, Fatamorgana ☆

Gambar
Tersudut beku di sela-sela penantian Kiranya pelangi itu tak kunjung datang padahal mendung telah sekian berlalu Sampai kapan? Sepertinya hidup indah hanyalah khayal Tersemak batin menampari wajah dengan pesona tipuan * Terkadang itu seakan terlihat Tapi akhirnya pupus dan tiada bekas Rajut mengulangi lagi dengan harapan dan suapan tegar Haha...... menipu diri Padahal jiwapun terkadang menangis Tiada teman, sendiri Pegangan hanya doa kepada Ilahi * Tertekun tapi masih terlihat jauh Asmara, impian, luka dan problema jadi untaian yang merangkai tabiat diri Tenggelam bersama bautan sukma Terlalu sering patah membuat luka lama membara Tergolek letih lepas dari nafas raga * Jika ku hadir Masih ingatkah engkau segala tentang diriku Kau yang dulu menghinaku, mengejek, mempermalukan bahkan menghindari bayanganku Mungkin kau berhasil Lihat kini, aku berusaha lalu terjerembab dan lagi.......

Mengapa Aku Menjauh ☆

Gambar
Saat ini harusnya aku ada di sisinya Karena ia ditinggal pergi kekasihnya Ia sedih terlalu Harusnya ku datang menghiburnya Harusnya ku menjenguk menenangkannya Tapi mengapa aku menjauh * Aku menjauh! Karena aku kekasih yang tak pernah kau anggap

Terbaring ☆

Gambar
Dimana aku berbaring? Saat ini di bawah pohon sawit yang nyiurnya menjulur lunglai Di awan yang mendadak duka Panas bercampur gerimis kecil * Pada musim yang tak tentu, udara aneh dengan alam Mengapa berganti padahal semua musim terasa sama di hati Gundah Melepas risih dengan siulan sedih Senandung anak petani yang mencari keleluasa-an Bercermin di mata pisau melihat ketajaman naluri Tak ada pelipur menghapus luka Hanya kata-kata bosan mengomel diri * Jika bertanya pada mereka Cuma dedaunan yang mengangguk tanpa arti Lalu apa yang indah? Sekarang, melihat sangkar burung berisi dua butir telur Seminggu lagi mungkin akan menetas Sang induk akan sibuk mencari makan buat anak tersayang Kelak sang anak dewasa akan mengeluarkan suara kicau merdu di kebun ini Itu cukup indah

Mengembara Dalam Hujan ☆

Gambar
Walau hujan terus bergulir tiap harinya dan tak pernah mengalah untuk reda Perasaanku tetap terkekang oleh kasih Serpihan jiwa adalah syair kerinduan yang terbuang Berlalu tiga musim mataku terpaku rindu * Pernahkah kau mendengar suara jantung semaput Atau angin yang berhembus rintih Kalut aku menyebutnya Melepas ketertarikanku padanya sama saja melepas cintaku * Terkapar di relung hati, saat senja kan pergi tinggalkan nirwana Samar wajah menembus tenda pembaringanmu Gerak pikirku memanggil namamu * Ingin kulukis indah wajahmu di tirai hujan ini Sebagai pengagum atas kesungguhan cintaku Kau tak pernah mengerti Di malam setelah senja ini kuingin berpadu dengan mimpi bersamamu

Dulu, Di Rumah Sakit

Gambar
Berdiri megah untuk dipuja Visi memberi pelayanan terbaik kepada masyarakat Tiada beda si miskin dan si kaya Memberi jasa pada semua, pasien sembuh dan kembali senyum ceria * Semua hanya slogan dan indah di mata Mereka memungut rupiah tak peduli orang papah atau kaum berada Si miskin hanya mengiba dan menjerit minta keringanan Kar'na tak semua orang punya duit berlimpah * Fasilitas terbaik tapi pelayanan amit-amit Pasien datang mengantri, berjejal dan berhimpit Antusias berobat gratis karena terdaftar dalam jaminan kesehatan Tiba-tiba panik karena pihak rumah sakit tidak menerima pasien BPJS dan KIS Niat berobat hanya untuk sembuh dari sakit Yang ada tambah sakit karena sekian jam menunggu, si dokter telat masuk poliklinik * Di ruang inap rasanya pilpun semakin pahit kar'na perawat jaganya judes dan tak simpatik Akhirnya seminggu di rumah sakit kepalapun jadi ikut sakit, lihat tagihan biaya yang membukit

Simpul Syahdu ☆

Gambar
Sapaan angin malam melabuhkan lirih di hati Makin berat saat rintik hujan membara dalam teka-teki Lukisan khayal menghias dinding nadir cinta Tak berpadu, menyudahi apa yang selalu dinanti * Syahdunya malam selalu berpaut dengan sepi Selalu ingin cepat berlalu melepas angan binal mengembara Tak bisa menikmati seduhan birahi kala ini Kedinginan tak berpacu dengan kehangatan Sekilas longlongan cakrawala buat hati menggerutu * Menelantarkan hati terikat dengan duka Senyenyak apapun aku pasrah Tak bisa ku membuat hati merelakan untuk pergi

Tergeming

Gambar
Kutuntaskan sekali lagi rasa lelah dan bersalah Ingin banyak kusampaikan maaf Hidupku sepertinya membebanimu Akupun bukan biadab dan bukan seonggok kayu yang tak bernilai Kutelusuri segala yang tersirat dibenak Mendekap pada naluri dan harapan mimpi yang kokoh Lajur intuisiku akan kubuktikan * Mempertahankan diam hanya mengisyaratkan lara yang tak pernah pudar Setetes airmata terseret lepas saat bercermin dalam duka Guman hati pergi menjauh Berguru pada waktu dan takdir yang menuntun jalan pikiranku Sudahlah cukup aku ingin lepas semua ini * Dengan apa aku memberi tahumu Rengkuhan sukma telah membatu Tersudut dengan sindiran dan ucapan yang selalu menikam perasaanku Rona wajah yang nampak tercerabut kemayu Nanti, biarkan aku meninggalkan kampung ini

Rindu Tak Bertaut

Gambar
Hanya memuji dalam waktu dan batas tak pasti Terus sembunyi untuk menghindar dari tatap mata Lari tapi terus peduli dan mengawasi Hati yang tulus tak ada ruang untuk bicara * Semua pasih dalam kesemrawutan kasih Raga bisa lari tapi jiwa tak mau mengingkari Menyendiri membungkam bodohnya diri Melepas kekesalan yang terlalu lama berjangkit * Kasih, sejauh mana engkau pergi aku tak bisa meredam rindu ini Bukan lagi sapaan atau senyuman Berakhir disini...... Sejauh mimpi pergi meninggalkan segala asa dan dendam tak berdalih

Eskapisme ☆

Gambar
Terhimpit dari kenyataan berpelik Terbirit dari hingar fanatis Membenamkan fantasi mengaburkan realitas adaptif Terjerembab lara sepenggala jiwa * Membuang waktu dengan rayuan asa Untuk apa jika jadi prasangka Masa yang ada hanya obsesif semata Mengikis dan menyiksa Mata hati gagal membawa visi * Binasa tersepi dari depresi Menafsir yang tak pernah terjadi Menyumbat telinga dan menutup mata hanya kontra ilusi Lagi kini lagi Faktual atau khayal tak dapat diresapi

Galat

Gambar
Merintis cita yang lama jadi damba Terkini jadi sedih terukir di lembah nista Seutas kisah yang ingin ditutup akhirnya Nestapa sembari menyekat jiwa gulana * Keliru dalam menafsir suasana Dikira semua kan jalan dengan seharusnya Itikad, harap, penantian yang letih sudah digenggam Prasangka untuk memuji baik segala musibah melanda Nasib berlain dari jutaan manusia terdampar Di akhir ini aku termenung dalam hampanya kenyataan * Kemana kutangguhkan hati yang terluka Di awal pagi tersenyum meneguk palsunya jiwa Di ujung senja, ingin kutahan matahari agar malamku tak bertabur duka Adakah cahaya yang jadi penutup Saat lentera hidupku hanya ada pada keyakinan

Malam Minggu Tanpa Kekasih ☆

Gambar
Malam minggu Bukan menunggu kamu Tapi hujan ini mengingat rinduku padamu * Mendung takkan terlihat ketika malam Tetes hujan akan lebih deras dari tetes airmata ini Dingin Terasa sangat dingin Karena aku sendiri tanpa kekasih * Tidak ada kata pisah atau selamat tinggal Kita berdua hanya bertemu sebatas teman Tapi hati ini menganggap engkau sebagai pujaan Salah siapa! Aku melamun Ini benar-benar kebodohanku

Deru Malam

Gambar
Dimana malam yang seharusnya kulalui dengan tenang Dimana kunang-kunang selepas magrib biasa datang bersinar Dimana bulan yang seharusnya telah bertemu dengan bintang pujaan Berkunjung malam hanya sabar dan sunyi bersemayam di hati * Selalu kuingat tuhan sang pengatur semesta alam Ia mendengar jeritan terdalam Luka yang terus kuperban Kusembunyikan dalam kelamnya gunjingan Makin gersang hingga hati seram bagai belantara hitam * Cinta...... Tersayat menganga dan binasa Menyudut belati hingga ke hati Mengumpulkan segala sakit menjadi siksa * Datangkah penawar yang kan memberi kesembuhan? Mengukir kehidupan yang indah Dan memberi harapan kebahagiaan tiada tara

Kecewa Pada Yang Kukagumi

Gambar
Ya! Setiap orang memiliki masa lalu Apakah itu pembenaran? Atau kebodohan dan kelalaian Masih lagak lugu? Hari ini keburukan yang terkubur itu muncul * Semudah melepas hasrat yang memuncak Mengapa tak mencari dan menunggu kekasih yang tulus mencintai Bukankah jadi hal indah saat bertemu cinta sejati masih sama-sama lugu * Aku tahu kamu akan tegar dan tabah menghadapi bully -an ini Menyesal atau melupakannya Aku tak peduli walau masihku mengagumimu * Bercak itu akan selalu timbul saat orang menyanjung dan melihat segala kelebihanmu Lebih dari itu kamu takkan pernah mendapatkan cinta sejati di dunia ini Karna kamu telah gagal melewati uji untuk mendapatkan cinta itu sendiri

Sesempurna Di Khayal

Gambar
Bercerita tentang indah rasa ini Jejak yang tak pernah kutemui sebelumnya Gelisah jiwa meramu waktu sebelumnya Mengeja nama yang pernah singgah sebentar di hati * Tembang indah mengalun mengiringi malam Mendekap dalam suara memuji Ada getar yang selalu tercampak Sebongkah bahagia menjadi perih membara * Kesenjangan cinta terkikis dinding jarak Menghalangi untuk menyulam kemesraaan Dulu kau kupuja Kini tinggal lamunan di pintu kehampaan * Kasih sesempurna yang ada di khayal Namun hatimu bukan bukit yang bisa kutaklukan Aku tak bisa menjadi orang yang kau damba * Untuk dia yang selalu bertengger di hatimu Aku terbang menjauh untuk menyepi menjaga setiaku

Malu

Gambar
Malu waktu dulu Saat kuutarakan cinta kepadamu Saat itu hanya ada cinta yang membanjiri lidahku Aku hanya pastikan bahwa aku mencintaimu * Saat itu ku sangat malu Ketika cinta tak disambut dengan kata "ya"! Pengalaman pahit itu Jadi kegetiran jiwa merana tiga senja * Sakit dan malu Ingin kulupa semua waktu aku dan kau Tapi hati enggan menutup paras wajahmu * Kini wajahku bagai bulan layu Rona redup putus kasihku Kapan sinar kembali terang Mungkin saat mentari datang memberi ketulusan cinta