Postingan

Terkelabui

Gambar
Sembari senyum ia sangat mempesona Wajahnya terlalu lugu untuk berbuat semena-mena * Sang puan berkelana mencari harta Segenap daya yang ia miliki menjadi setumpuk niat merubah nasib walau terbatas ilmu Ia berdiri di atas kepercayaannya, sangat tertata meski sederhana Jiwanya penuh kasih Nalurinya pun menjadi nakhoda menggiring pada satu gemerlap kota * Perlahan ia bicara Tentang kini, lalu dan silam Seraya ia menghela nafas dan angin bertiup meronai sekujur tubuhnya Suara selembut pasir pantai yang menjejak kelam waktu silam Sang puan sepertinya pernah terombang dalam ketidakberdayaan Ia sendiri merasakan sakit tapi tetap ia lakukan Entah apa yang ia pikirkan * Ciuman-ciuman kasihnya mungkin mengenang Tapi lenyap dan lepas hanya ditiup angin hasrat Mungkin kini hatinya berlari kesana-kemari mencari tambatan untuk disayang kembali Akupun tak duga Sepertinya aku tertipu wajah puan yang lugu itu

Patah, Fatamorgana ☆

Gambar
Tersudut beku di sela-sela penantian Kiranya pelangi itu tak kunjung datang padahal mendung telah sekian berlalu Sampai kapan? Sepertinya hidup indah hanyalah khayal Tersemak batin menampari wajah dengan pesona tipuan * Terkadang itu seakan terlihat Tapi akhirnya pupus dan tiada bekas Rajut mengulangi lagi dengan harapan dan suapan tegar Haha...... menipu diri Padahal jiwapun terkadang menangis Tiada teman, sendiri Pegangan hanya doa kepada Ilahi * Tertekun tapi masih terlihat jauh Asmara, impian, luka dan problema jadi untaian yang merangkai tabiat diri Tenggelam bersama bautan sukma Terlalu sering patah membuat luka lama membara Tergolek letih lepas dari nafas raga * Jika ku hadir Masih ingatkah engkau segala tentang diriku Kau yang dulu menghinaku, mengejek, mempermalukan bahkan menghindari bayanganku Mungkin kau berhasil Lihat kini, aku berusaha lalu terjerembab dan lagi.......

Kidung Pagi ☆

Gambar
Menyemangati hari dengan dendang pagi Dalam lukisan dingin embun-embun yang menari di ujung daun jambu merah Indah Tapi tak pada diri Begitu jelas ada rasa yang telah pergi Berlalu tapi masih terpatri di hati * Sadarkah diri pada berjuta mimpi yang telah lepas jauh Sendiri Menyulam luka membalut duka lara Ah..... terbiasa * Nantipun awan putih akan tersenyum indah Dan senja akan menghias cakrawala dengan aurora sukma Menyapa lembut angin malam yang larut dalam lamunan Semoga nanti ada pengganti Lambat laun tunas gugur pasti berganti bunga Kuyakin

Mengapa Aku Menjauh ☆

Gambar
Saat ini harusnya aku ada di sisinya Karena ia ditinggal pergi kekasihnya Ia sedih terlalu Harusnya ku datang menghiburnya Harusnya ku menjenguk menenangkannya Tapi mengapa aku menjauh * Aku menjauh! Karena aku kekasih yang tak pernah kau anggap

Siapa Yang Mengirimku Ke Dunia ☆

Gambar
Aku bertanya Apa sebab ayah dan ibu aku terlahir ke dunia? Atau kehendak sang maha pencipta aku ada Masih disini aku termangu Di sisi daun lembayung biru Ingin ku memekik kesunyian, membuang angan sesat * Siapa yang menulis namaku di Lauh Mahfudz Apakah dia malaikat yang sembunyi-sembunyi dan diam-diam menulis buruk nasibku Tapi bukan itu yang kumaksud * Mengapa seorang anak selalu disalahkan dengan keadaannya Aku lahir dari rahim manusia, itu bukan mauku Aku dianugerahkan kepada kedua orangtua tanpa harus tahu siapa dan dimana Itu juga bukan mauku Aku menurut atas kehendakNya Dan tak ada satu haripun tanpa pengawasan dan takdirNya * Bahkan takdir ini sudah tertulis saat aku belum lahir Lalu mengapa aku dipersalah atas semua kejadian yang ada Apakah harus mengikuti cara hidup orang lain padahal setiap insan punya jalan hidupnya sendiri Tanpa sama * Dan Dia mengirim tiap hambanya ke dunia dengan tujuan Setiap anak yang lahir adalah takdir Anak berhak memilih jal...

Jangan Buka Luka Lama ☆

Gambar
Itu luka penuh luka Jangan buka Aku tak sanggup menerima Cinta ....... dan segala rengekannya * Sudahlah Aku ingin lepas dan melangkah Mengunci masa lalu Kisah itu sangatlah pahit rasanya

Doa Malam

Gambar
Pada langit yang telah gelap dan bersemayam sunyi Aku luluh dalam kalut yang mendera Pada bentang cakrawala dan lengkung bianglala Teteskanlah embun di sajadah ini Biar kuambil bulir itu untuk membasuh wajah sebagai penyejuk dan ridhaMu atas segala hasrat ini * Di penghujung tahajud hamba ingin berteduh di maghfirahMu Karuniakanlah cinta dan kasih untuk diri yang selalu terlumpur dari dosa Membasuh dosa tak semudah membuang daki lalu bersuci Daku ingin tersinar cahaya keagunganMu agar kudapat selalu berada dalam jalan kebaikan * Mencium sajadah seperti tunduk mencium kakiMu Merendah dalam ketidaktahuan dan kebodohan Hamba bukan manusia yang pandai dalam tahlil dan tahmid untuk menggelorakan kemuliaanMu dengan nyanyian pujian Hamba hanya mengetahui tahtaMu melebihi bumi dan langit Engkau yang berkuasa dan mengatur segala urusan dunia Aku cuma bisa luruh dalam segala permohonanku * Setiap desah nafasku selalu berada dalam genggaman mautMu, syukur atas segala detak jantu...