Postingan

Orang Tua Dan Skeptis Masa Depan

Gambar
Terbaring lemah di ranjang. Kata hanya patah sepatah. Tak daya makanpun hanya dua suap sendok bubur nasi. Bertahun sakit terkadang sembuh sesaat kumat lagi dan kini sudah sebulan lunglai sampai buang hajat di tempat tidur. * Dulu masih gesit kerja sampai lupa menjaga kondisi badan agar bugar. Seharinya bekerja, ibadah dan bekerja mewujudkan mimpi agar hidup sekeluarga berkecukupan tanpa harus kurang makan untuk istri dan tujuh anak titipan tuhan. * Kini aku yang tinggal bersama ibu untuk merawat bapak karena enam saudara lainnya sudah sibuk mengurus rumah tangga sendiri. Sesekali menjenguk tapi apa yang mau diharap, toh.... mereka sudah punya tanggungjawab yang mungkin lebih penting sekedar merawat orang tua. * Sendiri, sudah biasa dengan aroma tak sedap membersihkan dan mengganti popok. Jijik, tapi harus! Siapa lagi?. Bisa jadi ini pengabdian terakhirku untuk bapak. Semua ada hikmah tak harus bertanya, mengapa? * Ketika senja hanya tinggal senja dan malam berlarut dalam lamun....

Adagium Rafflesia

Gambar
Hidup terasing dari puji sanjungan Terlontar busuknya cacian orang-orang munafik Teguhkan jiwa untuk pasrah pada daya sang kuasa Berbeda, itu selalu mengisi sisi manusia selama dunia terus berputar * Hina ada pada mata manusia Mulia hanya subjektif yang ditata sedemikian indah Hidup terikat pada persepsi Bisa jadi kenyataan hanya ilusi Manusia menyuarakan beragam friksi, menutup naluri untuk benar sendiri Ekuilibrium kehidupan ada pada sisi negatif * Jiwa tak selalu ikhlas untuk terus dinilai sebelah mata Hitam atau putih seperti fusi untuk saling mempengaruhi Tak juga memantaskan diri ini suci Manusia ini dan manusia itu hidup dalam asumsi yang diyakini

Dan Memori Itupun Pergi

Gambar
Ketika kenangan yang indah hanya sesaat Berlalu hanya bekas dilema yang tersirat Kebersamaan adalah senyum untuk menyapa sekelumit batas kewajaran * Kita seperti bulir-bulir spora yang diterbangkan oleh angin Tak kan pernah menyangka bertemu dalam waktu dan tempat yang tak terduga Pada alam hanya berserah dan mengeja Semua tiba-tiba tanpa harus berbuat apa Apa mesti kita pikirkan bagaimana ini terjadi? Padahal kitapun tak menghendaki * Saat semua kebersamaan itu hanya tinggal memori dan keterpurukan Itu seperti duri yang harus dibuang Semua berakhir binasa dalam waktu dan dekap rindu * Melangkah pergi usah meninggalkan jejak terdahulu Ada pedih dan cemas Adakah yang indah menanti di ujung sana? Adakah cahaya yang memberi jalan hati yang pupus dan telah terkoyak * Berjejal duka terus menyambangi, mengarus emosi turut membawa keraguan Letih untuk mengenang kesedihan Terus terpuruk kan membuat sakit jiwa Setumpuk cerita yang harus diakhiri kisahnya Begitu banyak mi...

Bukan Tuk Durhaka

Gambar
Siapa yang ingin konflik dengan orangtua? Keluarga adalah segalanya Aku sadar diri ini terlahir dari rahim seorang ibu Haruskah kuturuti setiap keinginan mereka Haruskah hidup dalam kemunafikan asal mereka bahagia * Sudah selalu kumengalah Terlalu sakit diriku tuk berdusta Kuingin berjalan dengan kejujuran dan apa adanya Kupunya hati dan cinta yang tulus Kupunya jalan hidup dan impian yang mesti kuperjuangkan Kebahagianku biarku yang tentukan * Siapa yang aku bohongi, tuhan juga tahu siapa diriku walau kubisa menipu jutaan orang Tak mungkin kubermuka dua Mengharap iba bukan sifatku Kuhanya hanya anak yang ingin dicintai dengan segala kekurangan dan kelemahanku

Lafaz Cinta Takkan Sirna

Gambar
Mengapa cinta seperti berlabuh di lautan lava Berharap membawa kesejukan dan pelepas dahaga Ternyata membakar semua yang ada tanpa sisa Luka dan luka yang terus ada * Cinta yang sudah ada sejak tercipta manusia pertama di surga Kini terjatuh padaku untuk kusapa Kedua tangan tengadah mengharap ridhaNya Sedang seribu tanya memenjara jiwa akankah ini berpijak di langkah yang salah * Tak seperti ayat-ayat cinta yang tersusun indah bak rangkaian mutiara Cintaku seperti lambaian keraguan yang tiap saat harus kukokohkan dengan nyanyian doa Menjejal hari-hari dengan permohonan ampun kepada sang pemilik keagungan cinta

Vigilantes

Gambar
Nyawa tak dapat diukur dengan berapapun nilai uang Menjunjung tinggi hak asasi jadi tanggungjawab bersama Pengakuan, penghormatan dan persamaan terhadap martabat manusia adalah hal utama Berapa banyak orang merenggang nyawa, tersiksa, tersakiti dan teraniaya karena ulah main hakim sendiri dan persekusi * Hukum rimba bukan hal yang manusiawi tanpa mentolerir dasar perikemanusiaan Melecehkan dan merendahkan orang lain sama saja menghina tuhan yang menciptakan mereka Yang kuat menekan yang lemah adalah penindasan yang harus dihanguskan Mengadili tanpa proses hukum bentuk sebenar-benarnya emosi dan ke-egoisan jiwa yang dzalim * Gelap mata hanya akan merugikan orang lain dan menyengsarakan diri sendiri Meningkatkan empati, akal, kesadaran dan meredam amarah untuk menjaga kedamaian Naluri adalah hukum pertama saat melihat orang diduga bersalah

Bijaksana Saat Kita Mampu Memahami ☆

Gambar
Apakah lilin dipersalahkan saat ia berhenti menyala Mengapa awan dipersalahka saat ia menutup sinar rembulan Lalu mengapa bunga mawar dipuja dan marigold dihinakan Mengapa pula merak didekati dan gagak ditakuti * Mengapa daun ganja diharamkan dan daun teh disuguhkan Lantas mengapa batu permata dimuliakan dan batu kali diacuhkan Juga mengapa semut disingkirkan dan lebah diternakkan Lagi mengapa pemulung direndahkan dan dokter diagungkan Apa kita menilai sesuatu dari kekurangan dan subjektif semata Padahal mereka semua hanya menunjukkan kesanggupannya dan tetap memiliki manfaat seperti lainnya