Postingan

Ramadhan "Di Rumah Aja"

Gambar
Terasa sunyi, tanpa ada anak-anak remaja yang keliling kampung pukul klontengan membangunkan warga untuk sahur Biasanya pun setelah shubuh anak-anak yang libur sekolah suka jalan-jalan santai menyusuri setapak jalan Duh....dalam sekejap semua berubah * Sore hari kebanyakan orang-orang mencari menu buka puasa di pasar bedug kinipun tiada Hari gini buat kebutuhan makanpun susah, cukup untuk beli sembako dan berbuka dengan kurma sudah alhamdulillah Semua orang mengeluh dengan keadaan tapi apa mau dikata, wabah corona sedang melanda * Adzhan isya terdengar lantang menggema tapi orang-orang dilarang kumpul untuk shalat tarawih bersama Tradisi keagamaan dan kebiasaan orang-orang muslim mengisi kegiatan ibadah selama bulan puasa kinipun sirna "Di rumah aja", kata emak-emak tetangga *  Membaca Al-qur'an, tadarus dan shalat tarawih bisa dilakukan bersama keluarga Mungkin Allah-pun ingin kita tafakur di rumah Merenung tentang hakiki diri dan apa saja yang telah diperbuat selama hid...

Di Akhir Maret (Efek Corona)

Gambar
Hujan di akhir Maret pekat dengan kesedihan Dinginnya seperti arus sepi orang-orang yang ditinggal terkasih Melonjak emosi pada kata, "aku sendiri" Kecemasan yang semakin menjadi Di pojok ruang menatap dalam getirnya peristiwa yang terjadi * Bagaimana membangun keyakinan jika esokpun tak tahu apa yang bakal terjadi

Air Mata Dunia (Efek Corona)

Gambar
Kini kamipun merasakan air mata dunia  Wabah itu menjangkit dan merenggut nyawa di negeri ini Kami shock, porak-poranda Kocar-kacir mencari solusi Pelan tapi pasti linangan air mata saat kehilangan saudara tercinta Anak yang berpisah dari orangtuanya Dokter yang pamit pada pasiennya * Kami petani kecil ikut menderita, cuma berpasrah menitikkan air mata Kapan ujian ini berakhir Bagaimana menyambung hidup mencukupi pangan keluarga sedang pabrik-pabrik karet dan sawit tutup padahal kami mengais rezeki tiap hari mengumpulkan secawan getah dan berbutir sawit Ya Allah terlalu berat bagi kami * Apa kami terlalu berdosa kepadaMu Berapa lama kami bisa bertahan? Berapa lagi ribuan nyawa melayang? Di awal pagi Di senandung adzhan ini aku mengingat kebesaranMu, tuhan Jika ini peringatan Cukup sudah......

Aku Terbiasa

Gambar
Aku terbiasa dengan angan-angan tinggi dan tak bisa untuk meraihnya Seperti layangan yang terbang tinggi terhasud angin lalu putus benangnya dan tak tahu arah tujuan * Aku terbiasa menyimpan malu, rasa hati untuk tak kuungkapan Aku sendiri, mengelabui orang-orang di sekitar agar tak tahu sejatinya diriku Misteri yang terlalu lama kusimpan * Aku terbiasa tersakiti, canggung terkadang ingin kulari Tak main-main yang buat kepala pusing dan panas hati Andai derita ini bisa terkuliti * Akupun terbiasa sunyi, membiarkan bisikan alam menyelinap bernyanyi Suara kalong cekikik singgah di dahan rambutan Untuk sekian malam bulan berbinar tak satupun jawaban terakhiri Hingga fajar datang kembali bangunkan rutinitas petani

Sudut Mata Yang Berbeda

Gambar
Pernahkah engkau perhatikan bunga teratai yang tumbuh di tempat air keruh yang berlumpur Seberapapun kedalaman airnya, tunasnya akan berusaha mencapai permukaan untuk menampakkan keanggunannya Daun dan bunganya tetap indah tak menunjukan dari lingkungan seperti apa ia berkembang * Adapun sebagian manusia hidup di lingkungan yang kerap jadi hinaan, dicap penuh dosa hanya karena ia serupa Tapi ia sesungguhnya bisa menyaring noda kehidupan dan selalu bisa menyingkirkan dosa yang ada di dekatnya Ia tidak berbaur dan tidak melekatkan diri pada sangkaan orang * Dialah sebagian kecil manusia yang tahu bahwa tak seharusnya hidup hanya dinilai dengan pandangan mata, apa yang tak terlihat di dalam itulah yang penting direnungkan Melihat dari jiwa, kebersihan hati, perjuangan diri dan kesucian rohani itulah yang kan membuat seseorang menjadi berbeda dan bernilai

Di Dunia Tidak Ada Kebenaran, Yang Ada Hanya Keyakinan

Gambar
Apa pantas manusia merasa benar dari lainnya sedang dia sendiri hanya diberi sedikit pengetahuan Apa layak manusia mencaci dan merendahkan sebagian orang sedang dia sendiri juga tak bisa menjaga ucapan dan perbuatan Pantaskah manusia terus bertikai dengan paham agama dan kepercayaan, menghujat ajaran lain dengan tawaan sedang tuhan selalu mengajarkan berbagi kasih sayang Bagaimana jika semua perselisihan itu adalah hasil dari amarah, nafsu dan keangkuhan diri sendiri? * Dulu fir'aun menganggap dirinya sebagai tuhan Dulu orang percaya matahari mengelilingi bumi Dulu ilmuwan menganggap ukuran terkecil adalah molekul Dulu orang meyakini pluto adalah planet Dan ternyata itu tidak benar * Kebenaran manusia bisa berubah seiring waktu seiring perkembangan pikir dan teknologi Intinya untuk sekedar meyakini bahwa itu sebuah benar Haruskah memaksakan kebenaran pada orang yang juga memiliki kebenaran Hukum hakiki hanya milik Allah  Apa seseorang yang telah hapal Taurat, Injil, Alqur'an da...

Tanah

Gambar
Aku adalah tanah tempat kamu berpijak Yang selalu kalian salahkan saat longsor menimbun rumah, jiwa dan harta benda Aku adalah tanah yang kritis Saat pohon-pohon yang tumbuh di atasku dibabat untuk bangunan, jalan, perumahan dan lahan ilegal pertanian * Ketika aku berdoa agar kawanku awan menurunkan hujan untuk membasuh daerahku yang kering biar daun-daun di pohon itu kembali hijau dan sungai mengalir dengan banyak ikan Tapi kalian menfitnah kami telah menyebabkan longsor dan banjir Kalian sungguh mengkambing-hitam * Kami berdua adalah pesuruh seperti halnya kalian yang patuh pada khalikNya Kami hanya menegur apa yang kalian perbuat Jadi jangan salahkan kami jika kami merenggut nyawa